Minggu, 08 Mei 2011

Makna Ridha Dalam Kehidupan

“MAKNA RIDHA DALAM KEHIDUPAN”
Oleh Fazzan, S.Pd.I
Ridha berasal dari kata radhiya-yardha yang berarti menerima suatu perkara dengan lapang dada tanpa merasa kecewa ataupun tertekan. Sedangkan menurut istilahiyyah ridha berkaitan dengan keimanan yang terbagi menjadi dua macam. Yaitu, ridha Allah kepada hamba-Nya dan ridha hamba kepada Allah. Hal ini sebagaimana diisyaratkan Allah dalam firman-Nya, “Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya.” (QS. al-Bayyinah: [98]: 8). Jadi, orang yang ridha akan menerima dengan sepuas-puasnya apa yang di anugerahkan oleh Allah, bahkan setiap penderitaanpun dirasakan sebagai anugerah. Al-Ghazali menyatakan, bahwa ridha berada dibawah maqam mahabbah dan di atas maqam sabar. Karenanya sabar yang terus menerus dan sungguh-sungguh akan meghasilkan ridha ( Prof. H. A. Rivay Siregar: 2002).
Bagi seorang muslim, ridha Allah merupakan kebahagiaan tertinggi, puncak segala nilai. Dari cerita sahabat Nabi bernama Shuhaib, kita bisa menangkap kesan itu. Waktu itu, ia dikejar-kejar orang-orang Quraisy ketika hendak menyusul Nabi dan sahabat lain untuk hijrah ke Madinah. Begitu tahu bahwa orang Quraisy memburunya, ia turun. Dan tanpa rasa takut, Shuhaib menggertak rombongan itu. “Kalian tahu, aku adalah pemanah ulung,” kata dia. “Demi Allah, kalian tidak akan mampu menyerangku selama panah dan pedang berada di tanganku. Sekarang pilih, kalian mati terbunuh, atau mengambil seluruh hartaku di Makkah, asal kalian biarkan aku hijrah ke Madinah,” Shuhaib menawarkan.
Tentu saja, diberi pilihan seperti itu rombongan Quraisy lebih memilih harta ketimbang menyerang Shuhaib yang belum tentu dapat dikalahkan. Tak ada pertumpahan darah, tak ada korban jiwa, dan Shuhaib pun selamat sampai Madinah menyusul sahabat lain yang telah lebih dulu sampai di sana.
Ridha dan Pengorbanan
Nabi memuji tindakan Shuhaib. Beliau mengatakan bahwa pengorbanan Shuhaib bakal menuai untung. Dengan pengorbanan, hidup Shuhaib lebih punya arti. Shuhaib rela meninggalkan harta bendanya demi kebahagiaan yang lebih tinggi: ridha Allah. Shuhaib tampaknya sangat sadar, jika tak diorientasikan pada ridha Allah, seluruh isi hidupnya tidak akan bermakna. Ridha Allah membuat hidup betul-betul “bernyawa”. Tanpa itu, kehidupan menjadi hampa tanpa makna, seolah putaran-putaran kenaifan yang tak berujung.
Al-Quran “memotret” pengorbanan Shuhaib ini. “Dan di antara manusia ada yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah, dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hambanya.” (QS. al-Baqarah: [2]: 207). Menurut al-Hakim, dalam al-Mustadrak, turunnya ayat ini beriringan dengan kisah Shuhaib. Tampak, ridha Allah tak bisa lepas dari pengorbanan. Selain ayat tadi, ayat-ayat lain juga kerap menyebut ridha Allah berdampingan dengan pengorbanan. Kemudian surga, kasih sayang Allah, balasan berlimpah, dan kenikmatan ukhrawi biasanya disebut satu rangkaian dengan ayat-ayat itu.
Karena itu, tak mengherankan jika setiap muslim begitu mendambakan ridha Allah. Seakan terbayang di benak kita, sebuah pengorbanan yang diridhai Allah. Meski pahit saat ini, kelak bakal menuai kebahagiaan tiada tara. Begitulah hidup yang berkualitas, penuh makna. Namun, apakah kita tahu, perbuatan kita telah atau akan mendapat ridha Allah?
Setiap hari kita menjalani shalat lima waktu, zikir, membaca al-Quran meski satu-dua ayat, atau sekedar mendengar ceramah ustaz. Setiap hari pula, kita bergaul dengan orang, di kampus, di pasar, di kantor, di tempat-tempat umum, atau mungkin di rumah tetangga. Kita berbicara, bersenda gurau, tawar-menawar harga, berdiskusi, makan bersama, dan seterusnya. Ada begitu banyak hal yang kita lakukan. Kita mungkin pernah merasa telah atau akan mendapat ridha Allah. Kita yakin betul, apa yang kita perbuat murni demi mencari ridha Allah. Tak ada motivasi lain. Tapi, kita tidak pernah tahu apakah hal itu dapat menjamin bahwa ridha Allah menyertai kita.
Kita juga sering mendengar dan menyaksikan orang yang tanpa ragu-ragu menyatakan bahwa perbuatan yang dia lakukan semata-mata demi ridha Allah. Tapi, kita lantas heran: perbuatan yang diklaim bertujuan mencari ridha Allah ternyata membuat ratusan bahkan ribuan jiwa melayang. Memporak-porandakan tatanan masyarakat. Membuat ratusan anak kehilangan ayah. Menimbulkan ketakutan berjuta-juta manusia. Kita bertanya-tanya, apakah mungkin menggapai ridha Allah dengan mengabaikan ridha manusia? Jika ridha Allah adalah pengorbanan, pengorbanan untuk siapa? Bukankah Allah ghaniyyun ‘an al-‘âlamîn, tidak membutuhkan makhluk?
Ridha Allah memang tidak bisa secara nyata kita saksikan. Di balik perbuatan, yang bisa kita tangkap hanyalah pernyataan, klaim, baik ucapan maupun tulisan. Selebihnya, apakah ridha Allah benar-benar menjadi arah hidup seseorang, kita tidak pernah tahu. Tapi, satu petunjuk yang baik bisa kita temukan dalam hadis Rasulullah. Kita tentu pernah mendengar sabda beliau: ridhâ al-rabb fî ridhâ al-wâlid wa sakhathu al-rabb fî sakhathi al-wâlid, ridha Tuhan ada pada ridha orangtua, murka Tuhan pun ada pada murka orangtua. Di sini Rasulullah menunjukkan, ridha Allah tergantung pada ridha manusia konkrit yang ada di dunia nyata. Rasulullah mencontohkan orangtua.
Kendatipun ridha Allah sangat abstrak, setidaknya perbuatan bisa kita saksikan. Tak mungkin ridha Allah berbarengan dengan tindakan yang melecehkan ridha manusia. Tentu manusia dalam arti luas. Bukan ridha segelintir orang, tapi petaka bagi masyarakat yang lebih besar. Allah pun mustahil meridhai manusia yang berbuat kerusakan. “Sesungguhnya Allah tidak menyukai mereka yang berbuat kerusakan.” (QS. al-Qashash: [28]: 77).
Shuhaib sahabat yang rela meninggalkan kekayaannya di Makkah itupun tidak melakukan perusakan di pasar-pasar Makkah. Padahal, Shuhaib boleh dikatakan mahir berperang. Sementara Makkah adalah kota pusat perdagangan. Di sana, banyak orang Quraisy menjadi pemodal besar. Seandainya Shuhaib menyerang dan mengobrak-abrik sebuah pasar di Makkah, misalnya, sulit dibayangkan Nabi akan memuji dan menyebut Shuhaib telah berkorban demi mencari ridha Allah. Pun, sulit dipercaya, sebuah upaya memperjuangkan kebahagiaan tertinggi, puncak segala nilai, tapi melahirkan hal sebaliknya: kehancuran dan penodaan nilai.
Antara Ridha dan Pasrah
Ridha Allah kepada hamba-Nya merupakan tambahan kenikmatan, pahala, dan ditinggikan derajat kemuliannya. Sedangkan ridha hamba kepada Allah mempunyai arti menerima dengan sepenuh hati aturan dan ketetapan Allah. Menerima aturan Allah yaitu, dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Adapun menerima ketetapan-Nya yaitu, dengan cara bersyukur ketika mendapatkan nikmat dan bersabar ketika ditimpa musibah.
Oleh karena itu, ridha bukan berarti menerima begitu saja segala hal yang menimpa kita tanpa ada usaha sedikit pun untuk mengubahnya. Ridha tidak sama dengan pasrah. Ketika sesuatu yang tidak diinginkan datang menimpa, kita dituntut untuk ridha. Dalam artian kita meyakini bahwa apa yang menimpa kita itu adalah takdir yang telah Allah tetapkan, namun kita tetap dituntut untuk berusaha. “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. ar-Ra’d: [13]: 11).
Dengan demikian, ridha menuntut adanya usaha aktif. Berbeda dengan sikap pasrah yang menerima kenyataan begitu saja tanpa ada usaha untuk mengubahnya. Walaupun dalam ridha terdapat makna yang hampir sama dengan pasrah yaitu menerima dengan lapang dada suatu perkara, namun disana dituntut adanya usaha untuk mencapai suatu target yang diinginkan atau mengubah kondisi yang ada sekiranya itu perkara yang pahit.
Jadi, tampaklah perbedaan antara makna ridha dan pasrah dalam kehidupan, yang kebanyakan orang tidak mengetahuinya. Dan itu bisa mengakibatkan salah persepsi maupun aplikasi terhadap makna ayat-ayat yang menganjurkan untuk bersikap ridha terhadap segala yang Allah tetapkan. Dengan kata lain pasrah akan melahirkan sikap fatalisme. Sedangkan ridha justru mengajak orang untuk optimis. Orang yang hidup dalam ridha mempercayakan hasil usaha sebelum terjadi ketentuan, lenyapnya gelisah sesudah terjadi ketentuan, dan cinta yang bergelora dikala turunnya mala petaka (Ibrahim Basuni: 1969).
Dari itu semua itu, kita sebagai muslim sejati marilah kita bermunajat kepada-Nya, bertaubat kepada-Nya sebenar-benar taubat (taubatan nasuha), mendekat kepada-Nya, mengharapkan ridha-Nya, agar kita menjadi orang yang selamat di dalam meniti “siroth al-mustaqim” dan menjadi hamba yang ridha terhadap Rabbun-Nya dan Rabbun Ridha terhadap kita. Amin Ya Rabbal ‘Aalamiin !!

Banda Aceh 25 Juli 2010

0 komentar:

Posting Komentar